Kamis, 25 Agustus 2011

Me Vs Styrofoam (Permusuhan yang tak ada ujungnya)


Pernah melihat lautan Styrofoam meluas di pintu air dan aliran sungai?? Ya, seperti itulah nasib sungai-sungai yang mengalir di kota besar. Beraneka bentuk dan ukuran kemasan busa putih ini mengambang menutupi permukaan sungai dan menyumbat alirannya. Dan sudah bisa dipastikan, banjir menjadi menu rutin setiap kali hujan mengguyur.

Celakanya, seperti bersaing dengan kantung plastik kresek (yang juga telah menjadi beban lingkungan yang amat berat) penggunaan styrofoam sebagai kemasan makin marak saja. Mulai dari bubur ayam hingga ayam potong, mulai dari pedagang kaki lima hingga supermarket, semua keranjingan menggunakannya.

Namun, tahukah Anda bahwa barang ini terbuat dari bahan minyak bumi? Pada awalnya styrofoam diciptakan perusahaan kimia raksasa asal Amerika Serikat, Dow Chemical Company, pada awal 1940-an dengan nama polystyrene thermal insulation.

Sampai akhirnya styrofoam dengan kemampuan tidak tenggelamnya, memberi inisiatif grup penyelamat Amerika Serikat untuk membuat sebuah rakit penyelamat dari bahan ini. Inilah awal mula bahan ini menjadi sangat terkenal dan kemudian dikembangkan penggunaannya ke seluruh dunia sampai sekarang.

Lalu, bagaimana proses pembuatan si putih nan keras ini sebenarnya? Saeful Toni, Supervisor Kualitas Kontrol PT Izumi EPS Indonesia pada (4/8) mengungkapkannya kepada Eksplo. Styrofoam terbuat dari bahan baku bernama EPS (expandable polystyrene), yang mengandung gas pentene serta nepta.

Bahan baku tersebut sering disebut dengan nama prepuff, yang berbentuk butiran-butiran halus berwarna putih yang berukuran 0,1-3 milimeter. “Pentene itu merupakan gas pengembang, yang akan membuat prepuff menjadi membesar nantinya. Sedangkan nepta itu merupakan bahan minyak bumi yang membuat styrofoam menjadi mudah terbakar,” kata Toni.


Selanjutnya, proses berlanjut dengan memasukkan prepuff ke dalam mesin expander atau mesin pengembang dengan temperatur 102 derajat Celsius. Prepuff yang telah mengembang, disimpan ke dalam mesin silo selama 6-72 jam. Dalam mesin tersebut, prepuff akan dikeringkan, dan dikurangi kandungan gas pentene-nya.

“Kandungan gas pentene yang dikurangi sebesar tujuh persen. Tidak boleh terlalu kering karena akan merusak bahan karena susah merekat dan mudah pecah,” ungkapnya.

Dari mesin silo, prepuff akan ditransfer ke mesin injection styrofoam di mana prepuff terlebih dahulu akan disimpan dalam mesin hopper. Dari hopper, prepuff akan dipindahkan ke moulding (pencetakan) dengan menggunakan alat feeder, untuk dicetak sesuai ukuran dan bentuk yang dibutuhkan.

“Nah, styrofoam yang telah tercetak akan dicek kualitasnya oleh kontrol kualitas sebelum dipindah ke dalam drying room oven (ruang pengering). Ruang pengering tersebut bertemperatur 50-70 derajat Celsius,” ujarnya.

Menurut Toni, lama penyimpanan di ruang pengering maksimal selama tiga hari, sebelum akhirnya dikemas dalam poly bag untuk dikirimkan ke pelanggan. “Kalau lebih dari tiga hari styrofoam itu akan berjamur,” tukasnya.

Andi Soleh, pegawai bagian pemasaran PT Izumi mengungkapkan, untuk 5-15 tahun ke depan, styrofoam masih akan berjaya di pasaran meskipun penolakan terhadap produk ini semakin besar. Wieliyanto, Kepala Pemasaran UD Maju Bersama mendukungnya. Menurut dia, selama ini penjualan styrofoam dalam bentuk kemasan makanan sangat bagus di pasaran.

Untuk penetrasi pasar, produk styrofoam tidak memiliki banyak kendala. Kepraktisan produk ini serta harganya yang cukup murah membuatnya mudah diterima masyarakat.
Menurut dia, selama ini peluang bisnis penjualan produk ini sangat bagus. “Produk ini praktis dan murah. Kelebihan itu sangat disukai oleh pelaku bisnis,” tukasnya.

Lalu, siapa yang menjadi target pasar dari produk kemasan styrofoam ini? Wieliyanto menuturkan, pemakai produk ini sebagian besar berasal dari ekonomi menengah ke bawah, seperti tukang nasi goreng, atau bubur ayam. “Restoran kelas kakap, mana berani menggunakan, karena akan menjatuhkan pamor mereka,” ujarnya.

Tidak terbatas hanya untuk kemasan makanan, styrofoam juga kini dikembangkan untuk bahan bangunan. Meskipun dalam pengembangannya masih sedikit masyarakat yang berani mencoba inovasi ini.

Di sisi lain, styrofoam dianggap sebagai dalang penyebab kanker dan perusak lingkungan hidup. Banyak negara yang akhirnya menentang penggunaan produk ini di Negara mereka, termasuk Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Andi mengungkapkan bahwa sampai saat ini belum ada pemecahan dari limbah styrofoam ini, karena memang produk ini tidak bisa terurai di tanah. “Solusi kami adalah dengan mendaur ulang menjadi sesuatu yang lebih berguna seperti bahan campuran untuk membuat batako,” katanya.

Harga yang murah serta belum adanya pengganti styrofoam sebagai bahan kemasan, membuat produk satu ini tetap menjadi idola berbagai industri. “Industri elektronik tetap menggunakan produk satu ini, belum lagi pabrik tekstil, furnitur, dan otomotif. Sekarang ini kami lagi mengembangkan pada industri tekstil yang sedang ranum-ranumnya,” tuturnya.

Memang, sebagai kemasan Styrofoam sangat praktis, ringan dan membuat produk terlihat bersih dan rapih. Tidak hanya itu, untuk urusan menghemat ruang pajang pun, material ini juaranya. Semua produk bisa disusun tertib dan teratur dengan mudah.

Padahal, Styrofoam sudah jadi masalah bagi lingkungan sejak pembuatannya. Karena untuk menghasilkan foam biasanya dibutuhkan bantuan CFC yang sudah "terkenal" sebagai penyebab meluasnya lubang di laisan ozon bumi (memang, sudah ada Styrofoam yang dibuat tanpa CFC, tapi berapa banyak jumlahnya?).

Meskipun CFC telah digantikan dengan bahan yang bernama Oxodegradable Polystyrene. Polysterene sebetulnya merupakan bahan yang selama ini digunakan. Akan tetapi, untuk pembuatan produk yang ramah lingkungan, polystyrene ditambahkan oxium sehingga bersifat dapat terurai dalam waktu kurang dari 4 tahun.

Namun bagaimana dengan kemasan styrofoam yang tidak menggunakan oxium?? Setelah menjadi "bekas kemasan", bahaya lainnya pun mulai mengintip. Dibuang ke tanah tak dapat diurai sampai kapan pun, dibakar menghasilkan gas beracun, di buang ke sungai, banjir pun tak terelakkan.

Belum lagi bahayanya pada kesehatan kita, terutama saat styrofoam terkena panas, dia akan melepas zat berbahaya yang dapat mengganggu hormon, sistem saraf dan dalam beberapa kasus menyebabkan hilangnya kesadaran.

Sebenarnya ada banyak cara untuk mengurangi, bila belum dapat mengganti, penggunaan styrofoam ini, yaitu dengan bubur kertas (ingat tempat penyimpanan telur ayam?). Beberapa merek terkenal sudah menggunakan kemasan dari bubur kertas untuk membungkus produk mereka.

Melihat beban lingkungan yang ditimbulkan, sudah waktunya kita menolak penggunaan Styrofoam sebagai kemasan. Penolakan kita sebagai konsumen akan menjadi desakan bagi produsen untuk mencari alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan. Karena kita sudah muak dengan Banjir, Udara Kotor dan timbunan SAMPAH !!

(Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar